MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK DENGAN TEKS NARATIF

Meingkatkan Minat Membca

Di tengah berkembangnya kemajuan teknologi dan digital, literasi masih menjadi faktor fundamental bagi seseorang untuk memahami dan menganalisis ilmu pengetahuan yang ada. Pepatah lama mengatakan bahwa buku yang merupakan sumber literasi adalah jendela dunia. Sayangnya pepatah tersebut rasanya sudah tidak relevan lagi dengan bangsa Indonesia.


Dari 278,69 juta penduduk Indonesia yang dilansir dari data BPS, hanya sedikit sekali masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Hadirnya buku digital atau yang lebih dikenal dengan e-book ternyata tidak mampu untuk mengatasi permasalahan tersebut. Masyarakat masa kini lebih tertarik untuk menggunakan gawai elektroniknya untuk mengakses permainan, atau video yang mudah didapatkan di berbagai sosial media daripada untuk mengakses berbagai perpustakaan digital atau bahkan e-book yang sudah mudah ditemukan bahkan bisa diunduh secara gratis di internet. Mereka mengklaim bahwa menonton video lebih menyenangkan dan juga lebih mudah membantu mereka untuk menyerap informasi terkini. Sayangnya, banyak video yang masih belum bisa dipastikan keabsahan informasinya. Maka dari itu tidak heran apabila masyarakat Indonesia mudah sekali tergiring dengan isu-isu yang merupakan hoax semata.


Menurut data yang dilansir dari UNESCO hanya 0,001 persen masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Bisa disimpulkan bahwa hanya ada 1 dari 1000 orang yang suka membaca. Berdasarkan temuan ini, maka tidak heran apabila Indonesia hanya menduduki peringkat 68 dari 81 negara yang berpartisipasi dalam PISA (Program for International Student Assessment). Penelitian ini mengevaluasi prestasi siswa berusia 15 tahun dalam bidang matematika sains dan membaca yang diadakan 3 tahun sekali. Fakta yang lebih menyedihkan lagi adalah, pelajar Indonesia mengalami penurunan atau learning loss sebanyak 12-13 poin untuk semua bidang dibandingkan dengan tahun 2018. Hal tersebut tentunya perlu menjadi perhatian khusus terutama bagi guru selaku pendidik di sekolah, serta keluarga selaku pelaku pendidikan pertama dan utama.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor rendahnya minat dan kemapuan baca atau literasi para pelajar di Indonesia, adapun diantaranya adalah:

1. Tidak adanya pembiasaan di rumah.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama. Sebelum anak belajar di tingkat sekolah, seharusnya anak terlebih dahulu mendapatkan pendidikan tentang kebiasaan-kebiasaan baik di rumah, salah satunya adalah membaca. Seberapapun guru di sekolah mengajak siswa untuk gemar membaca, hal ini tidak mungkin terwujud apabila tidak adanya kerjasama dengan orang tua ataupun keluarga. Sayangnya masih sedikit sekali Masyarakat yang mau atau mampu melakukan peranan ini. Orang tua cenderung langsung menyodorkan gawai elektronik yang berisi dengan beraneka permainan atau video daripada menemani anak untuk belajar mengeksplorasi kemampuan sensor motorik dan juga membaca. Faktor ekonomi dimana orang tua terpaksa meninggalkan anak sendirian untuk bekerja juga berperan dalam masalah ini.

2. Paksaan dalam jenis bacaan yang wajib dibaca.

Banyak pihak yang berfikir bahwa untuk mendapatkan ilmu maka kita wajib membaca buku cetak pelajaran dan menganggap novel apalagi komik bukan merupakan bacaan yang mendidik dan berguna. Tidak jarang juga orang tua marah apabila mendapati putra-putri mereka membaca komik. Memang membaca komik secara berlebih tidak baik untuk anak karena beresiko membuat anak mengesampingkan mata pelajaran karena terlalu asyik membaca komik. Hal inilah yang membuat anak semakin enggan untuk membaca dan berfikir bahwa membaca adalah kegiatan yang membosankan karena mereka merasa dipaksa untuk menekuni buku-buku besar tanpa gambar yang tidak menarik. Padahal, sejatinya informasi tersebut bisa didapatkan dari mana saja. Banyak novel-novel menarik yang mengisahkan tentang peristiwa sejarah atau bahkan mengupas tentang kehidupan profesi tertentu, seperti dokter, detektif dan sebagainya. Komik yang dinilai mendidikpun sebenarnya mampu memberikan banyak informasi asal kita pintar memilih dan memilah mana judul yang layak dibaca anak sesuai dengan umur dan tahapan perkembangan mereka. Sebagai contoh, informasi apabila luka dengan air rebusan teh mampu menjadi langkah pertolongan pertama apabila terkena gigitan ular berbisa, karena teh mengandung zat tanin yang mampu menjadi penawar bisa ular dari sebuah komik berjudul Detective Conan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kita tidak bisa mengesampingkan novel dan komik yang notabene merupakan salah satu contoh dari teks naratif untuk menjadi sumber bacaan bagi anak.


Buku yang bersifat teks naratif dan memuat banyak gambar bisa menjadi alat bantu bagi pendidik dan orang tua untuk menumbuhkan minat baca pada siswa, dengan catatatan kita pandai memilah judul buku yang sesuai dan bermuatan positif bagi anak. Jangan langsung marah apalagi melarang apabila kita menemukan anak meraih novel atau komik untuk dibaca. Apabila hal ini terus berlanjut dikhawatirkan bisa memupus minat baca anak, apalagi jika langsung kita sodori dengan buku yang menurut mereka tidak menarik.


Biarkan mereka tertarik untuk membaca terlebih dahulu, sembari kita arahkan jenis bacaan mana yang cocok bagi mereka. Kita damping dan kita arahkan seandainya ada hal-hal yang dirasa tidak sesuai. Apabilaa nak sudah tertarik membaca dan menjadikan membaca sebagai hobi mereka, maka tidak akan sulit bagi kita untuk kemudian mengarahkan mereka untuk mempelajari buku-buku lain yang memuat lebih banyak pengetahuan. Apalagi di jaman sekarang sudah cukup banyak tersedia baik digital maupun cetak buku pengetahuan yang dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik bagi anak. Apabila hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kemampuan literasi anak menjadi meningkat yang pastinya bisa menunjang pencapaian akademis anak.